Pertamina Buat Tangki BBM dan LPG dengan Dana Sendiri

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menugaskan PT Pertamina (Persero) membangun tangki penyimpanan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan elpiji dengan pengukuran flow meter lc. Penugasan itu tertuang di dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 2157 K/lO/MEM/2017 yang diterbitkan pada 31 Mei lalu.

Dalam aturan tersebut, Menteri ESDM Ignasius Jonan menugaskan Pertamina membangun serta mengoperasikan infrastuktur hilir selanjutnya bersama dengan memanfaatkan anggaran perusahaan. “Penugasan kepada PT Pertamina (Persero) dijalankan bersama dengan memanfaatkan Anggaran Biaya Investasi PT Pertamina (Persero).

Ketika membangun infrastruktur hilir migas itu, Pertamina harus jalankan beberapa pekerjaan teknis. Pekerjaan itu terasa berasal dari penyusunan dan rencana sebelum akan masa konstruksi berupa studi kelayakan (Feasibility Study/FS), desain awal (Front End Engineering Design/FEED), dan desain akhir (Detail Engineering for Design Construction / DEDC).

Pertamina juga harus menjamin penyelesaian pembangunan tangki penyimpanan BBM dan elpiji, dermaga (jetty), dan infrastruktur pendukungnya. Infrastruktur yang telah dibangun itu juga harus dioperasikan dan dipelihara oleh Pertamina. Kewajiban lain adalah jalankan pemenuhan keperluan BBM dan elpiji di kurang lebih lokasi dibangunnya infrastuktur tersebut. Kemudian, menjamin standar dan kualitas (spesiflkasi) produk BBM dan elpiji. Berikutnya, harus menjamin keselamatan umum, keselamatan pekerja, keselamatan instalasi, dan keselamatan lingkungan di dalam pembangunan dan pengoperasian tangki BBM dan Elpiji.

Kementerian ESDM menargetkan penyelesaikan pembangunan tangki penyimpanan BBM dan elpiji, dermaga (jetty), dan infrastruktur pendukungnya paling lambat tahun 2019. Pertamina diminta tekankan daerah-daerah yang benar-benar memerlukan pasokan energi tersebut. Berikut lokasi pembangunan tangki BBM: 1. Badas, Nusa Tenggara Barat. Kapasitas tangki sebesar 1×2.500 kiloliter (kl), dibangun pada 2017-2018.
2. Waingapu, Nusa Tenggara Timur. Kapasitas tangki sebear 1×2.500 kl, dibangun pada 2017-2018. 3. Maumere, Nusa Tenggara Timur. Kapasitasnya sebesar 1×5.000 kl, masa pembangunan pada 2017-2018.

4. Pare-Pare, Sulawesi Selatan, kapasitas 1×2.500 kl, dibangun pada 2017-2018. 5. Merauke, Papua. Kapasitasnya 1×2.500 kl dan 1x 5.000 kl, masa pembangunan pada 2017-2018. 6. Ternate, Maluku Utara. Kapasitasnya sebesar 1×1.000 kl dan 1×5.000 kl. Masa pembangunan pada 2017-2018.

7. Masohi, Maluku. Kapasitasnya sebesar 1×1.000 kl, masa pembangunan pada 2017-2018. 8. Bula, Maluku. Kapasitasnya sebesar 1×1.000 kl dan 1×2.000 kl, dibangun pada 2017-2018. 9. Dobo, Maluku, kapasitasnya sebesar 1×2.000 kl, dibangun pada 2017-2018. 10. Labuha, Maluku.

Kapasitasnya sebesar 1×500 kl dan 1×1.000 kl, dibangun pada 2017-2018. 11. Saumlaki, Maluku, kapasitasnya 2×500 kl, dibangun pada 2017-2018. 12. Nabire, Papua, kapasitasnya sebesar 1×5.000 kl, dibangun pada 2017-2018 13. Namlea, Papua. Kapasitasnya, 1×1.000 kl dan 1×2.000 kl, dibangun pada 2017-2018. 14.

Wayame, Maluku, ukurannya sebesar 1×10.000 kl dan 1×20.000 kl, dibangun pada 2017 – 2018 Pembangunan tangki elpiji terdiri berasal dari empat lokasi, yakni: 1. Jayapura, Papua. Kapasitasnya 2.000 kl, pembangunannya selama 2017-2019. 2. Wayame, Maluku, kapasitasnya 2.000 kl, pembangunannya selama 2017-2019. 3. Tenau (Kupang), Nusa Tenggara Timur. Kapasitasnya sebesar 1.000 kl, pembangunannya selama 2017-2019. 4. Bima, Nusa Tenggara Barat, kapasitasnya sebesar 1.000 kl, pembangunannya selama 2017 – 2019.